SELAMAT DATANG DI PETRUSAJAH.BLOGSPOT.COM SILAHKAN TINGGALKAN PESAN

Rabu, 30 November 2011

Sentimen Publik dan Perbedaan Agama


Indonesia sedang berada di ambang sebuah krisis yang pelik. Krisis ini perlu mendapat perhatian sama besarnya dengan krisis moneter, kemiskinan, dan korupsi. Krisis ini disebut sentimen publik.
Sentimen publik memiliki potensi bahaya yang besar bagi stabilitas nasional karena mempengaruhi keharmonisan dua kelompok berbeda dengan merusak aspek hubungan yang paling fundamental, yaitu perspektif. Sekali sentimen publik ini meledak ke permukaan dalam bentuk konflik, maka akan sulit sekali untuk memperbaiki, atau setidaknya merubah perspektif antara dua kelompok yang berseteru.

Saat ini, krisis sentimen publik tengah menyerempet perbedaan- perbedaan yang paling sensitif, antara lain kepercayaan dan agama.
Dikobarkan oleh insiden penusukan jemaat HKBP dengan sejumlah oknum FPI di Bekasi sebagai tersangka, sentimen antara dua agama mulai tumbuh. Di situs- situs jejaring sosial mulai muncul opini-opini yang mengecam FPI, quote tajam tentang toleransi dan kebebasan beragama, dan seterusnya.

Hal ini menyedihkan, sebenarnya, mengingat Indonesia adalah bangsa yang plural dan selalu berhasil mempertahankan perdamaian dan ketenangan di tengah pluralitas itu. Indonesia selalu menjadi bangsa yang jamak dan bertoleransi tinggi terhadap perbedaan. Ketika hal ini mulai goyah, alarm tanda bahaya harusnya sudah berbunyi.
Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai kasus penusukan ini, apalagi menentukan mana yang benar atau salah berdasarkan penelusuran gagasan- gagasan dalam agama dan organisasi yang menaungi dua kelompok yang bertikai. Saya tidak memiliki kompetensi untuk itu, dan saya sadar sedang membicarakan isu yang luar biasa sensitif.
Tapi, yang saya yakini, kita semua harus bijak menyikapi krisis ini. Untuk tidak memberi opini apalagi provokasi tanpa benar- benar mengerti duduk masalah sebenarnya. Untuk bisa berpikir lebih luas dan sensitif dengan mempertimbangkan perasaan pihak yang akan mendengar buah pikiran kita. Untuk tidak menilai satu kelompok yang besar berdasarkan perilaku segelintir orang.






Kita perlu mengingat, cara kita menilai seseorang seharusnya tidak didasarkan pada apa yang dikenakan atau dirapalkannya, bagaimana caranya melakukan ritual keagamaannya, dan sebagainya; melainkan bagaimana caranya memperlakukan orang- orang disekitarnya.
Toleransi dan pluralitas kita adalah harta yang luar biasa berharga. Selamanya harus selalu begitu. Sebab di negara ini tak ada tempat untuk sekelompok orang yang keras kepala, egois, dan mengatas namakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan ego mereka.

Di lain pihak, sudah saatnya badan yang lebih besar (baca: DPR) untuk menjadi pihak yang netral untuk mendinginkan konflik ini. Daripada sibuk dengan rencana pembangunan gedung kelewat mewah dan studi banding yang tidak perlu, ada baiknya mereka membuka forum untuk mengcounter opini publik yang mulai berkembang. Menengai kesalah pahaman dan mengembalikan derajat toleransi beragama bangsa ke kondisi yang stabil. Saya rasa hal ini akan menjadi langkah yang bijak untuk sedikit mengurangi sentimen publik yang sudah tumbuh menahun kepada DPR
Jadi demikianlah, tidak ada yang lebih baik yang bisa saya sarankan selain tetap berkepala dingin menghadapi isu ini; beragama dengan bebas tapi bertanggung jawab, tidak memaksakan kehendak dan pemikiran kepada orang lain, menghargai perbedaan, dan selalu berpikir untuk kebaikan orang banyak. Semoga bermanfaat.

 excerpt from : http://muthie.blogdetik.com/2010/09/18/sentimen-publik-dan-perbedaan-agama-be-wise/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CARA PRAKTIS DOWNLOAD VIDEO YOUTUBE TANPA SOFTWARE

langsung saja bos..kali ini kita akan membahas bagaimana cara mendownload video youtube tanpa menggunakan software . kalau ada yang prakti...